essay · 2026-11-03 · 2 min read

Biar aku berhenti sejenak di persimpangan jalan ini, aku tidak ingin sama sekali memilih. Aku tidak ingin merubah apa pun dan aku tidak ingin ke mana pun. Dalam kegamangan semuanya terasa menenangkan. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan tentang dunia, agama, politik dan tetebengek lainnya. Biarkanlah kali ini aku menatap semuanya dengan telanjang dan seada-adanya.
Langit siang ini bersih dari awan, Tuhan sedang menyapunya dengan angin. Namun terik mentari terasa sekali, menyengat kulitku yang semakin menghitam. Semilir angin bertabrakan dengan tubuhku yang kian rapuh disiksa dunia yang kejam. Aku tidak pernah merasa beban dari apa pun, semuanya mengikatku dengan apa yang mereka definisikan dan tentukan. Hidup harus begini, hidup harus begitu. Hidup harus ini, hidup harus itu. Hidup harus bla…bla…bla…
Tai kucing, tai kerbau, tai kambing. Bau busuk menyengat, hidungku perih menghirup kebusukan. Seorang khotib sedang bersabda di mimbar, seorang pastor sedang membaca kitab, sedang yang lain bertapa di puncak gunung. Sempat aku bertanya, bagaimana cara seorang atheis mencintai Tuhan?
Semua terasa cepat, siang berganti sore. Aku masih belum beranjak dari persimpangan jalan ini. Jalan kanan menuju kemaksiatan yang tak henti-henti, sedang jalan kiri mengantarkanku kepada tujuan yang banal. Tidak ada kemeriahan yang ditawarkan dari ini semua. Apakah layak untuk kita bertanya hidup ini cukup berarti? Apakah hidup cukup berarti?
Guruku pernah berkata, “Jangan sesekali mencicipi nikmatnya dunia, karena kau akan terjebak di dalamnya. Dahulukan perkara akhirat, sebab akhirat adalah tujuan kita.”
Aku hanya mengangguk ketika guruku berkata demikian, tidakkah akhirat terlalu fiksi dan dipaksakan ke dalam otak kita? Kita disuguhkan dengan cerita-cerita bagaimana kehidupan setelah mati penuh dengan yang bahagia-bahagia saja, yang baik-baik saja, yang seru-seru saja, yang santai-santai saja.
Aku tidak ingin semuanya ini berlalu begitu saja, nikmat dunia, nikmat akhirat dan nikmat-nikmat lainnya. Apakah memang dasarnya manusia mencari kenikmatan dalam hidup ini? Aku tidak ingin memikirkan dengan sangat, aku ingin membiarkannya berjalan seada-adanya. Kehendakku ialah kehendak Tuhan, apa benar? Apa benar demikian? Entahlah, jangan tanyakan kepadaku yang tak tahu menahu tentang rahasia-rahasia yang bersemayam. Dan jangan pula aku berusaha membangunkan atau mengungkap rahasia-rahasia yang ada, sebab sekeras apa pun pencarianku, sejauh apa pun perjalananku, makna-makna tersebut tidak pernah akan kutemukan. Sebab, rahasia akan selamanya menjadi rahasia.
Kakiku masih menapak di tanah penuh krikil merah, debu tanah menempel di wajah, mataku hanya menatap ke arah persimpangan jalan ini. Bagaimana jika aku pulang ke rahim ibu saja?
Pejamkan matamu, tarik napas, tahan sekitar 4 detik, hembuskan selama 6 detik. Ulang-ulang hingga kau merasa lebih tenang.
fiksi